Minggu, 03 April 2011

Tiada Hari Tanpa Berjudi

Tulisan ini dikutip dari:
http://ahmadifham.wordpress.com/2011/03/...a-berjudi/
Weekend Sabtu Minggu adalah hari bola. Dari Sabtu siang hari sampai Senin dini hari, kita bisa tonton pertandingan bola (siaran langsung atau tunda) yang bisa dinikmati di berbagai channel Televisi.

Di sela-sela acara bola, biasanya ada kuis. Syarat ikut kuisnya tentu mudah, tinggal ketig Reg Spasi Bola atau sejenisnya yang bertarif premium (Rp.2.000,-).

Setelah SMS, Anda akan terdaftar sebagai peserta yang nantinya berhak diundi untuk ditelpon oleh panitia (TV), kemudian Anda diberi pertanyaan pilihan (yang biasanya mudah dijawab, bahkan seringkali diberi klu jawaban oleh sang presenter). Kalau berhasil kasih jawaban benar, Anda dapat hadiah Rp.1.500.000,-.

Setelah teregister, Anda pun punya lagi sebuah kesempatan untuk memenangkan undian berhadiah nonton bola langsung di Inggris (misalnya) dengan biaya, akomodasi, transportasi, konsumsi, dll yang semuanya ditanggung oleh panitia.

Wah, menggiurkan sekali ya, apalagi bagi anda pecinta bola.
Ada jugagame berbeda yaitu Anda bisa memberikan dukungan atau komentar atas pertandingan yang sedang berlangsung dengan kirim SMS ke bla bla bla. Selain komentar Anda ditayangkan sebagai running text di televisi yang bisa dibaca oleh jutaan pemirsa, Anda juga berhak menjadi peserta yang akan diundi untuk memenangkan hadiah Rp.500.000,- misalnya.

Ternyata jenis kuis atau game seperti ini tak hanya ditemukan di bola. Ada juga game model lain seperti lelang BB dan sejenisnya (yang harga normalnya lebih dari Rp.5.000.000,-), namun di game ini dijual dengan harga bukaan di Rp.12.000,- dan biasanya terjual tidak melampaui harga lebih dari Rp.50.000,-.

Untuk mengikuti kuis ini, Anda tinggal Ketig Reg Spasi Lelang kirim ke bla bla bla. Setelah Anda teregister, Anda berhak menjadi peserta yang diundi untuk ditelpon oleh panitia sehingga menjadi pemenang lelang BB tersebut. Game jenis ini kayaknya ditayangkan setiap hari loh.
Ada lagi nih, game jenis Reg Spasi Hudgson atau Reg Spasi IGT atau Reg Spasi Idol dan sejenisnya, kemudian kirim ke bla bla bla. SMS Anda bisa menambah jumlah polling yang diperoleh orang yang Anda dukung di acara tersebut, dan peserta polling akan diundi memperebutkan hadiah. Tarif SMSnya premium atau bukan, saya gak tahu. Belum pernah nyoba dan ngecek.

Ada lagi misalnya pada acara penentuan award winner untuk pemenang kategori aktor terbaik, aktris terbaik, band favorit, dan/atau di sini juga kita bisa mendukung sebuah acara TV untuk jadi pemenangnya. Kalau ini saya gak tahu pasti apakah SMS yang dikirim menggunakan tarif biasa, tarif premium atau digratiskan, dan apalagi diiming-imingi dengan hadiah.
Nah, apakah ada yang salah dengan game semacam ini? Mari kita cermati.

Pertama, game tersebut mensyaratkan peserta memberikan iuran berupa SMS premium sebesar Rp.2.000,- ke panitia. Woww, saya jadi membayangkan kalau ada 2 juta orang saja yang kirim SMS, maka income panitia adalah 2.000 x 2.000.000 = Rp.4.000.000.000,- Apalagi jika pengirim SMSnya lebih dari itu. Padahal hadiah yang dikasih paling tak seberapa dengan income ataupun laba yang diperoleh.
Maklum lah “bisnis”. Hehe.

Kedua, jika semua peserta memberikan iuran (berupa SMS dengan tarif Premium tersebut), kemudian ada peserta yang jadi pemenang, dan ada peserta yang tidak memperoleh sesuatu sama sekali atas game tersebut, jelas ini Zero Sum Game yang dalam ranah syariah hal ini merupakan kategori saudara kandung dari judi (maysir).

Ketiga, Akhirnya tidak perlu mencermati lebih jauh lagi karena indikasinya sudah jelas. Nah, di Alquran, biasanya pelarangan atas maysir (judi dan zero sum game) ini disejajarkan dengan pelarangan terhadap “candu” jenis khamr atau minuman memabukkan. Khamr itu candu, maysir juga candu.

Agar terhindar dari game jenis judi ini, ada beberapa pilihan yang bisa
dilakukan:

a. Kalau ingin bikin acara seperti itu, buatlah agar biaya SMS sesuai tarif standar SMS, bukan tarif premium, atau
b. Bikin agar biaya SMS untuk game tersebut digratiskan. Ayo, berani gak!? Hehe kalau gratisan gak bisa berbuah limpahan duit ya?; atau
c. Bisa saja tarif premium diberlakukan untuk SMS komentar yang ditayangkan di running text televisi, namun jangan sampai di acara tersebut diiming-imingi hadiah;
d. Jika dirasa alternatif solusi tersebut tidak menarik, ya pilihannya tidak usah diadakan game demikian;
e. Namun, ada lagi alternatif berikutnya: biarkan acara tersebut berjalan apa adanya, jika memang negeri ini sudah sangat sangat mafhum dengan praktek judi dan dampaknya. Korupsi saja bisa menjamur kan, apalagi judi.
Kenapa sih judi itu dilarang? Dan apakah Anda harus jauhi larangan itu? Ada yang bilang larangan itu muncul karena memang hal itu merupakan ketentuan larangan firman Tuhan (ini bagi yang percaya sama Tuhan ya).

Dalam hal ini bisa jadi urusannya adalah “kalau itu larangan Tuhan, ya harus ditinggalkan. Kalau gak ditinggalkan, maka dosa.” Alasan ini pun tepat, meskipun memang aturan Tuhan itu sejatinya kan ya untuk kita-kita juga manusia dan makhluk lainnya. Tidak percaya dengan aturan Tuhan ya gak apa-apa. Namun ya ironis jika sampai mengeluh atas
dampaknya.

Ada lagi yang bilang, judi itu dilarang karena merugikan atau menzalimi hak orang lain. Loh, kan pelakunya suka sama suka dan rela sama rela dalam melakukannya? Ya, tentu bisa jadi secara kasat mata pelakunya suka dan rela.

Namun coba saja cek misalnya ambil 2 peserta: yang satu pemenang, yang satu yang kalah, cek saja suasana hati mereka saat itu. Juga ada yang menganggap dua ribu perak gak ada artinya bagi peserta? Hehehe saya gak yakin jika 2 ribu perak gak ada artinya. Kalau gak ada artinya, mending disedekahkan saja kan. Dan juga cek saja aktivitas transaksi 2 ribu perak itu bagi panitia dan pemenangnya, pasti sangat menyenangkan baginya.

Namun, jangan samakan model menang kalah di sini dengan sejenis perlombaan yang tidak melibatkan iuran lho. Kalau perlombaan di mana pesertanya tidak memberikan iuran untuk pembelian hadiah, maka hal ini gak masalah.

Nah, bagaimana dengan perlombaan acara Agustusan? Ya pada prinsipnya sama saja.
Jika ada game yang peserta iurannya adalah peserta lomba juga dan hadiahnya dibelikan dari uang iuran, hal ini merupakan zero sum game juga.

Dalam hal perlombaan acara Agustusan, agar terhindar dari zero sum game, ya bikinlah acara bersama seperti pesta, makan-makan atau acara yang semua peserta iuran bisa merasakan/memperoleh manfaat yang sama atas iuran masing-masing. Atau kalau mau mengadakan lomba ya dana hadiah jangan diambilkan dari pos iuran peserta, misalnya ambil saja dari sponsor. Hati-hati loh, hal ini “sangat kaprah” (bukan “salah kaprah”) telah lazim dilakukan oleh segenap masyarakat.

Bagaimana pula dengan hadiah yang diperoleh dengan syarat harus terlebih dulu mengirimkan bungkus makanan instan? Atau bagaimana dengan status hadiah undian tabungan di bank? Dalam hal ini, perusahaan penyelenggara pemberian hadiah bisa berkilah karena biaya hadiah diambil dari laba perusahaan di tahun sebelumnya, dan tidak mengambil hak konsumen/nasabah.

Kalau game model pengiriman bungkus makanan, ini memang tidak begitu dekat dengan ranah zero sum game, namun lebih dekat dengan pembinaan perilaku konsumtif dan mubadzir (yang dikatakan oleh Alquran sebagai perilaku syetan), karena sebelum memperoleh kesempatan ikut undian berhadiah, konsumen harus membeli makanan tersebut terlebih dahulu bahkan kalau bisa beli sebanyak-banyaknya entah dia butuh atau tidak. Makanan itu tidak bisa diuangkan lagi karena otomatis makanan tersebut harus dikonsumsi terlebih dahulu.

Lain halnya dengan undian berhadiah dari bank. Ini lebih aman dari kategori zero sum game. Selain pembelian hadiah diambilkan dari laba perusahaan. Kesempatan yang akan lebih banyak dimiliki oleh orang yang mempunyai tabungan lebih banyak, cenderung dianggap lebih fair karena selain tidak mengurangi hak nasabah, tabungan tersebut juga sewaktu-waktu bisa diambil/diuangkan/dimanfaatkan lagi untuk berbagai hal, tidak seperti makanan yang mau gak mau harus dikonsumsi terlebih dahulu.

Tentu, alangkah sedih dan malangnya orang yang gak punya tabungan dan gak punya kesempatan diikutkan dalam undian. Ups, bukannya pengen bikin statement berlebihan, namun kalau saya lihat undian berhadiah mobil Alphard, saya pun pengen. Rasanya kok gak adil ya yang dapet hadiah mewah malah orang yang kaya (punya tabungan banyak).
Nah, mungkin masih banyak lagi case-case serupa dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Anda sependapat dengan saya, hati-hatilah ketika pengen ikut berpartisipasi dalam game tersebut. Kalau masuk kategori zero sum game kan repot, karena akan menyebabkan dampak yang tidak baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Untuk kategori judi model taruhan, saya tidak bahas di sini karena terlalu jelas bahwa hal ini dilarang dan akan menzhalimi orang lain.

So, apa yang harus kita lakukan? Ya mulailah dari diri sendiri untuk bisa
menghindari zero sum game tersebut, mengingatkannya kepada keluarga, teman, dan publik. Adalah langkah lebih signifikan lagi jika kita bisa menguasai media sehingga acara-acara zero sum game tidak lagi bertebaran dengan bebas di televisi dan meracuni/menginstall otak publik.

Bogor, 15 Maret 2011 Ahmad Ifham Sholihin

http://sharianomics.wordpress.com/

0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates